Jumat, 07 Juni 2013

Manajemen Strategik

0 komentar


1). Analisis 5 kekuatan persaingan menurut Michael Porter (Produk Garmen)

CV. Sinta Lestari adalah salah satu perusahaan garmen di Indonesia yang berlokasi di Jalan Kalianyar IV No. 3 Kecamatan Tambora Jakarta Barat 11320. Perusahaan ini memproduksi berbagai macam jenis t’shirt, wangki, kemeja dengan merek SVNS, F10, dan Tru-S dengan produk unggulan t’shirt bermerek SVNS.

Model lima kekuatan persaingan porter

Gambar 4.1 Lima Kekuatan Porter CV Sinta Lestari

Menurut lima kekuatan persaingan porter, sifat dan derajat persaingan yang dihadapi oleh CV. Sinta Lestari bergantung pada lima faktor yaitu :

1. Persaingan Antarperusahaan Sejenis
Persaingan antarperusahaan sejenis biasanya merupakan kekuatan terbesar dalam lima kekuatan kompetitif. Strategi yang dijalankan oleh suatu perusahaan dapat berhasil hanya jika mereka memberikan keunggulan kompetitif dibanding strategi yang dijalankan perusahaan pesaing. Pesaing CV. Sinta Lestari antara lain ialah industri jasa rumah tangga (CMT), Fernando Garment, Bukindo Jaya Garment, CV. Lestari Busana Indah, PD. Dwi Tungal Garment, PD. Prima Busana, PT. Central Aneka Busana dll. Beberapa pesaing merupakan pemain yang sudah lama terjun dalam bisnis industri garmen dan sudah terbukti kemampuannya, sehingga CV. Sinta Lestari harus terus meningkatkan kinerjanya agar dapat terus bertahan.

2. Kemungkinan Masuknya Pesaing Baru
Tugas penyusun strategi adalah untuk mengindentifikasi perusahaan yang berpotensi masuk ke pasar, untuk memonitor strategi pesaing baru, untuk memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada saat ini. Beberapa pesaing baru yang masuk dalam industri ini seperti banyaknya industi rumah tangga yang bermunculan karena suburnya keuntungan pangsa pasar ini.

3. Potensi Pengembangan Produk Substitusi
Produk pakaian jadi hampir tidak mempunyai barang pengganti, meskipun berbeda bahan dan jenis tapi tetap saja berada dalam industri yang sama.

4. Bargaining Power of supplier (Kekuatan tawar-menawar Penjual/Pemasok)
Sehubungan dengan visi dan misi perusahaan untuk menjadi yang terbaik dalam kualitas maka bahan yang kami gunakan juga bahan yang berkualitas tinggi. CV.Sinta Lestari menggunakan bahan-bahan dari PT Pulau Intan dalam menyuplai bahan selain itu pemasok lainnya ialah PT Asitex, Toko Super Benang, Toko PB.

5. Bargaining Power of consumer ( Kekuatan tawar-menawar Pembeli/Konsumen)
Ketika konsumen terkonsentrasi atau besar jumlahnya, atau membeli dalam jumlah besar, kekuatan tawar menawar mereka menjadi kekuatan utama yang memengaruhi intensitas persaingan dalam suatu industri. Konsumen CV. Sinta Lestari ialah secara individu, toko-toko maupun perusahaan. Dalam proses tawarmenawar harga semakin besar jumlah pembelian maka harga yang diberikan akan lebih murah dari jumlah pembelian yang lebih kecil.


2). Strategi Generik

Definisi strategi generik menurut M. Porter adalah suatu pendekatan strategi perusahaan dalam rangka mengungguli pesaing dalam industri sejenis.
Menurut Michael Porter, ada tiga landasan strategi yang dapat membantu organisasi memperoleh keunggulan kompetitif, yaitu keunggulan biaya, diferensiasi, dan fokus. Porter menamakan ketiganya strategi umum (strategi generik). Keunggulan biaya menekankan pada pembuatan produk standar dengan biaya per unit sangat rendah untuk konsumen yang peka terhadap perubahan harga. Diferensiasi adalah strategi dengan tujuan membuat produk yang menyediakan jasa yang dianggap unik di seluruh industri dan ditujukan kepada konsumen yang tidak terlalu peduli dengan perubahan harga. Fokus berarti membuat produk dan menyediakan jasa yang memenuhi keperluan sejumlah kelompok kecil konsumen.
a. Strategi Biaya Rendah (cost leadership)
Strategi Biaya Rendah (cost leadership) menekankan pada upaya memproduksi produk standar (sama dalam segala aspek) dengan biaya per unit yang sangat rendah. Produk ini (barang maupun jasa) biasanya ditujukan kepada konsumen yang relatif mudah terpengaruh oleh pergeseran harga (price sensitive) atau menggunakan harga sebagai faktor penentu keputusan. Dari sisi perilaku pelanggan, strategi jenis ini amat sesuai dengan kebutuhan pelanggan yang termasuk dalam kategori perilaku low-involvement,ketika konsumen tidak (terlalu) peduli terhadap perbedaan merek, (relatif) tidak membutuhkan pembedaan produk, atau jika terdapat sejumlah besar konsumen memiliki kekuatan tawar-menawar yang signifikan.
Strategi ini membuat perusahaan mampu bertahan terhadap persaingan harga bahkan menjadi pemimpin pasar (market leader) dalam menentukan harga dan memastikan tingkat keuntungan pasar yang tinggi (di atas rata-rata) dan stabil melalui cara-cara yang agresif dalam efisiensi dan kefektifan biaya.
Untuk dapat menjalankan strategi biaya rendah, sebuah perusahaan harus mampu memenuhi persyaratan di dua bidang, yaitu: sumber daya (resources) dan organisasi. Strategi ini hanya mungkin dijalankan jika dimiliki beberapa keunggulan di bidang sumber daya perusahaan, yaitu: kuat akan modal, trampil pada rekayasa proses (process engineering), pengawasan yang ketat, mudah diproduksi, serta biaya distribusi dan promosi rendah. Sedangkan dari bidang organisasi, perusahaan harus memiliki: kemampuan mengendalikan biaya dengan ketat, informasi pengendalian yang baik, insentif berdasarkan target (alokasi insentif berbasis hasil). (Umar, 1999).)
Contoh perusahaan yang menerapkan:  
·         Toyota, dilihat dari implementasi JIT (Just in Time) sehingga proses produksi bisa dipotong, efisiensi dapat tercapai. 
·         Beberapa contoh perusahaan yang terkenal kare strategi keunggulan biaya adalah Wal-Mart, BIC, Mc Donald’s, Black and Decker, Lincoln Electric, dan Briggs and Sratton.
·         Kemasan Isi ulang kecap bangau

b. Strategi Pembedaan Produk (differentiation)
Strategi Pembedaan Produk (differentiation), mendorong perusahaan untuk sanggup menemukan keunikan tersendiri dalam pasar yang jadi sasarannya. Keunikan produk (barang atau jasa) yang dikedepankan ini memungkinkan suatu perusahaan untuk menarik minat sebesar-besarnya dari konsumen potensialnya.
Berbagai kemudahan pemeliharaan, features tambahan, fleksibilitas, kenyamanan dan berbagai hal lainnya yang sulit ditiru lawan merupakan sedikit contoh dari diferensiasi. Strategi jenis ini biasa ditujukan kepada para konsumen potensial yang relatif tidak mengutamakan harga dalam pengambilan keputusannya (price insensitive).  Contoh penggunaan strategi ini secara tepat adalah pada produk barang yang bersifat tahan lama (durable) dan sulit ditiru oleh pesaing.
Pada umumnya strategi biaya rendah dan pembedaan produk diterapkan perusahaan dalam rangka mencapai keunggulan bersaing (competitive advantage) terhadap para pesaingnya pada semua pasar. (Lihat David, 1998; Fournier dan Deighton, 1997; Pass dan Lowes, 1997; Porter, 1980 dan 1985).  Secara umum, terdapat dua bidang syarat yang harus dipenuhi untuk memutuskan memanfaatkan strategi ini ; bidang sumber daya (resources) dan bidang organisasi.  Dari sisi  sumber daya perusahaan, maka untuk menerapkan strategi ini dibutuhkan kekuatan-kekuatan yang tinggi dalam hal: pemasaran produk, kreativitas dan bakat, perekayasaan produk (product engineering), riset pasar, reputasi perusahaan, distribusi, dan ketrampilan kerja. Sedangkan dari sisi bidang organisasi, perusahaan harus kuat dan mampu untuk melakukan: koordinasi antar fungsi manajemen yang terkait, merekrut tenaga yang berkemampuan tinggi, dan mengukur insentif yang subyektif di samping yang obyektif. (Umar, 1999)
Contoh Perusahaan menggunakan Strategi Differensial:  
·         Starbuck dengan kopinya yang berbeda dengan  coffe shop lain, sehingga pengunjung betah berlama-lama dan rela mengeluarkan harga yang cukup mahal dari yang lain.
·         PT. Indofood terutama produk mie instannya memiliki keunikan rasa dan promosi iklan yang mengusung tema nusantara.
·         Contoh jasa pengiriman cepat ( overnight delvery ) dari federal express.

c. Strategi Fokus (focus)
Strategi fokus digunakan untuk membangun keunggulan bersaing dalam suatu segmen pasar yang lebih sempit. Strategi jenis ini ditujukan untuk melayani kebutuhan konsumen yang jumlahnya relatif kecil dan dalam pengambilan keputusannya untuk membeli relatif tidak dipengaruhi oleh harga. Dalam pelaksanaannya – terutama pada perusahaan skala menengah dan besar –, strategi fokus diintegrasikan dengan salah satu dari dua strategi generik lainnya: strategi biaya rendah atau strategi pembedaan karakteristik produk. Strategi ini biasa digunakan oleh pemasok “niche market” (segmen khusus/khas dalam suatu pasar tertentu; disebut pula sebagai ceruk pasar) untuk memenuhi kebutuhan suatu produk — barang dan jasa — khusus.
Syarat bagi penerapan strategi ini adalah adanya besaran pasar yang cukup (market size), terdapat potensi pertumbuhan yang baik, dan tidak terlalu diperhatikan oleh pesaing dalam rangka mencapai keberhasilannya (pesaing tidak tertarik untuk bergerak pada ceruk tersebut).
Strategi ini akan menjadi lebih efektif jika konsumen membutuhkan suatu kekhasan tertentu yang tidak diminati oleh perusahaan pesaing. Biasanya perusahaan yang bergerak dengan strategi ini lebih berkonsentrasi pada suatu kelompok pasar tertentu (niche market), wilayah geografis tertentu, atau produk — barang atau jasa — tertentu dengan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen secara baik, excellent delivery. (Lihat David, 1998; Fournier dan Deighton, 1997; Pass dan Lowes, 1997; Porter, 1980 dan 1985).
Contoh Perusahaan:
·         Apple, yang berfokus kepada produknya selama bertahun tahun tanpa terpengaruh pasar. 
·         BMW jerman yang secara eksklusif memfokuskan pada pembuatan mobil-mobil mewah kelas atas. Strategi BMW tersebut bertentangan dengan paradigma umum industri mobil, yaitu memproduksi mobil untuk pasar masal.
·         Motor Gede Harley Davidson.

3). Contoh Diversifikasi

PT. UNILEVER dengan produk yang di diversifikasikan adalah SABUN, berawal dari SABUN BATANGAN menjadi SABUN CAIR juga dengan berbagai macam wewangian yang dapat dipilih oleh konsumen sesuai dengan kesukaan akan wewangian tersebut.

Pelembab muka misalnya PONDS dengan berbagai jenis variasinya sesuai jenis kulitnya ada yang untuk kulit kering dan untuk kulit berminyak.

Pasta Gigi dengan berbagai keinginan seperi untuk memutihkan gigi atau menguatkan gigi dan berbagai rasa khususnya untuk anak-anak .

Pelembab Kulit misalnya Citra dengan berbagai jenis variasi dan wangi, dengan berbagai efek juga bagi kulit konsumen, seperti BENGKOANG, MUTIARA dari Cina, TEH hijau dan lain.

Dan produk terakhir yang akan saya sebutkan adalah SHAMPOO, dengan berbagai variasi pula, ada yang anti ketombe, atau pun yang cool, ada juga yang untuk perawatan rambt rusak juga hadir dengan banyak wangi shampoo tersebut.

Tips untuk Pemilik Kartu Kredit

0 komentar
Pasca dibekuknya pelaku pemalsuan data kartu kredit oleh komplotan FA, SA, ACN dan KN, para pemilik kartu kredit dihimbau berhati-hati dalam bertransaksi dengan kartu kredit.
Berikut beberapa kiat yang diberikan oleh Polda Metro Jaya kepada para pemilik kartu kredit.
- Pemilik kartu kredit dihimbau lebih waspada. Saat bertransaksi. Usahakan hindari penggesekan kartu lebih dari satu kali.
- Hindari penggesekan kartu kredit di luar EDC resmi sesuai bank yang mengeluarkan kartu kredit. Misal, kartu kredit bank BCA digesek di mesin EDC Bank Mandiri.
- Jika memiliki kartu kredit atau kartu debit yang sudah habis masa berlakunya, sebaiknya dimusnahkan atau digunting sehingga tidak dapat diisi dengan data orang lain.
- Mintalah pihak bank memberikan layanan SMS pasca transaksi untuk memastikan tidak ada transaksi yang tidak diketahui.
- Beritahukan langsung pada pihak Bank jika terdapat transaksi yang Anda tak merasa melakukannya.
Laili

Kamis, 06 Juni 2013

PENGARUH GAYA BELAJAR DAN MOTIVASI BERPRESTASI SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR PRAKTIK INSTALASI LISTRIK DI SMK NEGERI 2 YOGYAKARTA

0 komentar
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya belajar dan motivasi berprestasi terhadap Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik SMK Negeri 2 Yogyakarta. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi product moment dengan taraf signifikansi 5% dan analisis regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara gaya belajar dengan prestasi belajar praktik instalasi listrik; (2) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar praktik instalasi listrik; (3) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel gaya belajar dan motivasi berprestasi dengan prestasi belajar praktik instalasi listrik; (4) Nilai kontribusi variabel gaya belajar dengan prestasi belajar praktik instalasi listrik sebesar 10,2%; variabel motivasi berprestasi dengan prestasi belajar praktik instalasi listrik berkontribusi sebesar 9,60%; variabel gaya belajar dan motivasi berprestasi dengan prestasi belajar praktik instalasi listrik berkontribusi sebesar 16,6%.

Kata kunci: gaya belajar, motivasi berprestasi, prestasi belajar praktik instalasi listrik

1.         Pendahuluan
1.1     Latar Belakang
Di Indonesia pendidikan kejuruan direpresentasikan dalam Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang merupakan sekolah yang berorientasi pada dunia kerja dan salah satu tujuannya memberikan bekal siap kerja kepada siswa sebagai tenaga kerja yang terampil tingkat menengah sesuai dengan persyaratan yang dituntut oleh dunia kerja. SMK menjadi penghasil pekerja teknik tingkat menengah yang sangat dibutuhkan oleh dunia industri harus dapat meningkatkan kualitas lulusannya agar dapat dipercaya dan digunakan oleh industri. Pengetahuan dan ketrampilan yang relevan dengan dunia industri, harus ditanamkan pada para siswa di SMK sebagai bekal masuk ke dunia industri. Dengan demikian siswa harus mempunyai potensi dan prestasi diri yang tinggi. Prestasi tinggi merupakan hasil yang dapat diraih dengan pengalaman, ketekunan belajar dan motivasi tinggi.
Siswa memiliki banyak motivasi dasar yang berperan penting dalam dunia kerja yaitu motivasi berprestasi, motivasi berkuasa dan motivasi berafiliasi. Dari ketiga motivasi dasar tersebut, motivasi berprestasi memiliki peranan yang sangat besar dalam dunia kerja karena dengan usaha yang terus menerus untuk meraih prestasi. Untuk meraih sukses, motivasi berprestasi sangat diperlukan.
Selain motivasi berprestasi, prestasi belajar siswa SMK tidak terlepas juga dari gaya belajar siswa dalam mengikuti proses pembelajaran mata diklat produktif. Setiap siswa mempunyai kecenderungan pada satu gaya belajar tertentu. Namun demikian, ada siswa yang cenderung seimbang antara gaya belajar satu dengan yang lainnya, atau memadukan berbagai gaya belajar dalam proses belajarnya. Siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda. Siswa yang mengenali gaya belajarnya sendiri akan membantu memahami materi yang diberikan guru sehingga mudah memproses materi. Jika mudah dalam memproses materi dan mudah mengingat maka mudah dalam mengerjakan ujian sehingga prestasi belajar meningkat. Faktor yang paling berpengaruh pada perkembangan SMK yaitu pembelajaran. Pembelajaran merupakan proses pengembangan pengetahuan, keterampilan atau sikap baru pada saat individu berinteraksi dengan lingkungannya.
Proses pembelajaran yang baik akan mempengaruhi pencapaian hasil belajar.  Dalam hal ini Pencapaian hasil belajar praktik instalasi listrik merupakan wujud nyata dari penguasaan pengetahuan dan keterampilan praktik instalasi listrik, sehingga dapat diterapkan pada bidang pekerjaan yang digeluti nantinya. Dari hasil wawancara dengan  guru mata pelajaran praktik instalasi listrik di SMK Negeri 2 Yogyakarta diperoleh data bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran praktik instalasi listrik belum sesuai dengan yang diharapkan.
Mengingat terdapat pengaruh kuat dan begitu pentingnya gaya belajar siswa dan motivasi berprestasi siswa terhadap prestasi belajar yang dapat dicapai siswa, maka perlu diteliti tentang pengaruh gaya belajar dan motivasi siswa terhadap prestasi belajar pada pembelajaran praktik instalasi listrik di SMK Negeri 2 Yogyakarta.

1.2          Kajian Teori
1.2.1    Gaya Belajar
Gaya belajar atau learning style adalah cara yang konsisten yang dilakukan oleh seorang siswa dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir, dan memecahkan soal (S. Nasution, 2008:94). Gaya belajar juga dapat diartikan sebagai cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut.
De Porter dan Hernacki (2009:112-124) dalam buku Quantum Learning mengemukakan secara umum gaya belajar terbagi menjadi 3, yang biasa dikenal dengan VAK (Visual/penglihatan, Auditori/Pendengaran, dan Kinestetik/Gerakan).
Kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori. Ketiga kategori tersebut adalah cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu. Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik cara belajar yang lain. Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu hanya memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yamg sesuai dalam belajar maka akan memudahkan untuk menyerap pelajaran.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah cara yang cenderung dipilih siswa dalam menangkap stimulus atau informasi, mengingat, berpikir, dan memecahkan soal dari lingkungan dan memproses informasi tersebut.

1.2.2    Motivasi Berprestasi
Berprestasi adalah idaman setiap individu, baik itu prestasi dalam bidang pekerjaan, pendidikan, sosial, seni, politik, budaya dan lain-lain. Dengan adanya prestasi yang pernah diraih oleh seseorang akan menumbuhkan suatu semangat baru untuk menjalani aktivitas. Pengertian prestasi menurut Murray (dalam J. Winardi, 2004):
...Melaksanakan tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi atau mengorganisasi objek-objek fiskal, manusia atau ide-ide untuk melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin sesuai kondisi yang berlaku. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.
Pengertian motivasi berprestasi menurut McClelland (dalam Alex Sobur, 2003:285) adalah suatu daya dalam mental manusia untuk melakukan suatu kegiatan yang lebih baik, lebih cepat, lebih efektif dan lebih efisien daripada kegiatan yang dilaksanakan sebelumnya. Ini disebabkan oleh virus mental. Dari pendapat tersebut Alex Sobur mengartikan bahwa psikis manusia, ada daya yang mampu mendorongnya ke arah suatu kegiatan yang hebat sehingga dengan daya tersebut, ia dapat mencapai kemajuan yang teramat cepat. Daya dorong tersebut dinamakan virus mental, karena apabila terjangkit dalam jiwa manusia, daya tersebut akan berkembang biak dengan cepat. Dengan kata lain, daya tersebut akan meluas dan menimbulkan dampak dalam kehidupan.
Motivasi berprestasi menurut Tapiardi (1996:105) adalah suatu cara berpikir tertentu apabila terjadi pada diri seseorang cenderung membuat orang itu bertingkah laku secara giat untuk meraih suatu hasil atau prestasi. Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa dengan adanya motivasi berprestasi dalam diri individu akan menumbuhkan jiwa kompetensi yang sehat, akan menumbuhkan individu-individu yang bertanggung jawab dan dengan motivasi berprestasi yang tinggi akan membentuk individu menjadi pribadi yang kreatif.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian motivasi berprestasi adalah suatu daya dalam mental manusia untuk melakukan suatu kegiatan yang lebih baik, lebih cepat, lebih efektif dan lebih efisien untuk meraih suatu hasil yang atau prestasi dikehendaki.
McClelland (1953:82) menyatakan bahwa orang yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Mempunyai tanggung jawab pribadi
2.      Menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan
3.      Berusaha bekerja kreatif
4.      Berusaha mencapai cita-cita
5.      Memiliki tugas yang moderat
6.      Melakukan kegiatan sebaik-baiknya
7.      Mengadakan antisipasi

1.2.3        Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik
Kata prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasi dan belajar. Pengertian prestasi menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008) adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne (1985:40) menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Prestasi merupakan kecakapan atau hasil konkret yang dapat dicapai pada saat atau periode tertentu. Berdasarkan uraian pendapat di atas, yang dimaksud dalam prestasi dalam penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran.
Belajar menurut pengertian secara psikologis, merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003:2)
M. Ngalim Purwanto (2003: 85) dalam bukunya Psikologi Pendidikan, mengemukakan bahwa belajar adalah tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik amupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah atau berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaa maupun sikap. Dalam rumusan H. Spears yang dikutip oleh Dewa Ketut Sukardi (1983: 17) mengemukakan bahwa belajar itu mencakup berbagai macam perbuatan mulai dari mengamati, membaca, menurun, mencoba sampai mendengarkan untuk mencapai suatu tujuan. Selanjutnya, definisi belajar yang diungkapakan oleh Cronbach di salam bukunya Educational Psychology yang dikutip oleh Sumardi Suryabrata (2002:231) menyatakan bahwa belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan panca inderanya.
Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang dicapai dalam belajar. Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap siswa yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotorik setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar praktik instalasi listrik adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar siswa yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotorik setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan pada pembelajaran praktik instalasi listrik.

2.         Metode Penelitian
2.1     Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian ini adalah SMK Negeri 2 Yogyakarta. Waktu penelitian akan dilaksanakan Mei 2011 – Juni 2011.
2.2     Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMK Negeri 2 Yogyakarta jurusan Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik yang duduk di bangku kelas XI yaitu sebanyak 132 siswa. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik propotional random sampling mengingat penelitian ini bersifat homogen. Sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XI SMK Negeri 2 Yogyakarta jurusan Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik sebanyak 102 siswa. Penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini mengacu dari rumus yang dikembangkan oleh Krejcie dan Morgan (Sugiyono, 2010: 69).
2.3     Teknik Pengambilan Data
 Pada penelitian ini pengumpulan data menggunakan metode sebagai berikut:
1.    Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk mendukung instrumen angket dengan menunjukkan data di lapangan yang sudah ada. Dokumentasi dalam penelitian ini adalah dokumentasi hasil belajar praktik instalasi listrik yang diambil dari rekapitulasi akhir siswa di sekolah tempat penelitian berlangsung.
2.    Angket atau kuesioner
Instrumen angket atau kuesioner dalam penelitian ini menggunakan skala Likert, maka variabel yang diukur dijabarkan menjadi indikator-indikator yang dapat diukur. Indikator tersebut digunakan sebagai titik tolak untuk membuat item instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden. Setiap jawaban dihubungkan dengan bentuk pernyataan atau dukungan sikap yang diungkapan dengan memberi tanda pada pilihan jawaban yang terdiri dari, sangat setuju (SS), setuju (S), kurang setuju (KS) dan tidak setuju (TS).

3.            Hasil Penelitian dan Pembahasan
3.1        Hasil Penelitian
3.1.1  Gaya Belajar
Hasil deskripsi variabel gaya belajar (X1) diterangkan bahwa terdapat 102 responden memiliki gaya belajar dengan rata-rata (mean) sebesar 70,19; simpangan baku (standard deviasi) sebesar 6,67; tingkat penyebaran data gaya belajar (variance) sebesar 44,58; rentang (range) sebesar 36; skor minimum dalam data gaya belajar siswa adalah sebesar 57; dan skor maksimum dari data gaya belajar siswa adalah sebesar 93. Berdasarkan  hasil interpretasi skor variabel, gaya belajar termasuk dalam kategori kuat/tinggi. Hal ini berarti gaya belajar siswa berpotensi baik dalam mendukung prestasi siswa.
3.1.2  Motivasi Berprestasi
Hasil deskripsi variabel motivasi berprestasi (X2) diterangkan bahwa terdapat 102 responden memiliki motivasi berprestasi dengan rata-rata (mean) sebesar 62,78; simpangan baku (standard deviasi) sebesar 7,44; tingkat penyebaran data motivasi berprestasi (variance) sebesar 55,48; rentang (range) sebesar 30; skor minimum dalam data motivasi berprestasi siswa adalah sebesar 45; dan skor maksimum dari data motivasi berprestasi siswa adalah sebesar 75. Berdasarkan hasil interpretasi skor variabel maka motivasi berprestasi termasuk dalam kategori kuat/tinggi. Hal ini berarti motivasi berprestasi siswa berpotensi baik dalam mendukung prestasi siswa.
3.1.3  Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik
Hasil deskripsi Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik (Y) diterangkan bahwa terdapat 102 responden memiliki Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik dengan rata-rata (mean) sebesar 77,29; simpangan baku (standard deviasi) sebesar 4,32; tingkat penyebaran data motivasi berprestasi (variance) sebesar 18,71; rentang (range) sebesar 21; skor minimum dalam data Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik siswa adalah sebesar 70; dan skor maksimum dari data Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik siswa adalah sebesar 91. Berdasarkan hasil interpretasi skor variabel maka maka Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik termasuk dalam kategori kuat.
3.2        Pembahasan
3.2.1  Pengaruh Gaya Belajar pada Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik di SMK Negeri 2 Yogyakarta.
Variabel gaya belajar memberikan pengaruh yang signifikan dan positif terhadap Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik pada pembelajaran Praktik instalasi listrik siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik SMK N 2 Yogyakarta.. Hal ini ditunjukkan dengan hasil koefisien korelasi sebesar 0,320 lebih besar daripada nilai signifikansi sebesar 0,05 atau 5%.
Meskipun demikian, variabel gaya belajar berpengaruh terhadap  Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik hanya sebesar 10,2%, ditunjukkan dengan output hasil uji regresi bahwa nilai R2 sebesar 0,102. Sedangkan 89,08 % dipengaruhi oleh faktor lain.  Faktor lain yang mempengaruhi bisa meliputi suasana belajar maupun ketersediaan perlengkapan belajar yang memadai. Hal ini berarti bahwa semakin baik gaya belajar siswa, maka semakin baik pula prestasi belajar yang dicapai siswa
3.2.2  Pengaruh Motivasi Belajar pada Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik di SMK Negeri 2 Yogyakarta.
Variabel motivasi berprestasi memberikan pengaruh yang signifikan dan positif terhadap Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik pada pembelajaran Praktik instalasi listrik siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik SMK N 2 Yogyakarta. Hal ini ditunjukkan dengan hasil koefisien korelasi sebesar 0,310 lebih besar daripada nilai signifikansi sebesar 0,05 atau 5%.
Meskipun demikian, variabel motivasi berprestasi berpengaruh terhadap  Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik hanya sebesar 9,60%, ditunjukkan dengan output hasil uji regresi bahwa nilai R2 sebesar 0,096. Sedangkan 90,40 % dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor lain yang mempengaruhi bisa meliputi dukungan orang tua maupun dukungan dari guru. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi motivasi berprestasi siswa, maka semakin baik pula prestasi belajar yang dicapai siswa.
3.2.3  Pengaruh gaya belajar dan motivasi berprestasi pada prestasi belajar praktik instalasi listrik di SMK Negeri 2 Yogyakarta.
Variabel gaya belajar dan variabel motivasi berprestasi memberikan pengaruh yang signifikan serta positif terhadap Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik pada pembelajaran Praktik instalasi listrik siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik SMK N 2 Yogyakarta. Hal ini ditunjukkan dengan hasil koefisien korelasi sebesar 0,408 lebih besar daripada nilai signifikansi sebesar 0,05 atau 5%. Variabel gaya belajar dan motivasi berprestasi terhadap Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik sebesar 16,6%, ditunjukkan dengan nilai R2 sebesar 0,166. Sedangkan 83,4% dipengaruhi oleh faktor lain.
Secara statistik, dapat disimpulkan bahwa gaya belajar dan motivasi berprestasi berpengaruh terhadap Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik pada pembelajaran Praktik instalasi listrik siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik SMK N 2 Yogyakarta., baik secara parsial maupun bersama-sama. Untuk kebijakan lebih lanjut, pihak sekolah sekirannya meningkatkan semua komponen untuk  mendukung proses pembelajaran dan memotivasi siswa guna meningkatkan prestasi belajar siswa. Begitu juga dengan orang tua siswa.
Hasil ini sesuai dengan teori Muhibbin Syah (2005:144) bahwa prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh setidaknya tiga faktor yaitu,
a.                   faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa
b.                  faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa
c.                   faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan  pembelajaran  materi-materi pelajaran.
4.      Kesimpulan
1)      Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara gaya belajar siswa dengan Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik siswa dengan koefisien korelasi sebesar 0,320. Persamaan regresi bersifat linier dengan persamaan dengan kontribusi sebesar 10,2% dari gaya belajar siswa. Hal ini berarti bahwa semakin baik gaya belajar siswa, maka semakin baik pula prestasi belajar yang dicapai siswa.
2)      Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara motivasi berprestasi siswa dengan Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik siswa dengan koefisien korelasi sebesar 0,310. Persamaan regresi bersifat linier dengan persamaan dengan kontribusi sebesar 9,60% dari motivasi berprestasi siswa. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi motivasi berprestasi siswa, maka semakin baik pula prestasi belajar yang dicapai siswa.
3)      Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara gaya belajar dan motivasi berprestasi siswa dengan Prestasi Belajar Praktik Instalasi Listrik siswa dengan koefisien korelasi sebesar 0,310. Persamaan regresi bersifat linier dengan persamaan, dengan kontribusi sebesar 16,6%.

DAFTAR PUSTAKA
Alex Sobur. (2003). Psikologi umum.
Bandung: Pustaka Setia.
Anas Sudijono. 2007. Pengantar evaluasi pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Barbara Prashnig. 2008. The Power of
Learning Style http://Binakreatif.
blogspot.com/2008/06. Diunduh 27
Oktober 2011
De Porter, Bobbi & Hernacki, Mike. 2009. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.
Dewa Ketut Sukardi. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional.
Gagne .1985. The Cognitive Psychology of
School Learning. Boston: Little
Brown.
Gellerman, S. W. (1963). Motivation and
Productivity. India: The American
Management Association, Inc.
Hoeda Manis. 2010. Learning is Easy: Tip dan Panduan Praktis agar Belajar jadi Asyik, Efektif, dan Menyenangkan. Jakarta: Elex Media Komputindo.
J. Winardi. 2004. Motivasi; Pemotivasian
dalam Manajemen. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada
Komarudin. 1994. Ensiklopedia
Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara
Mc. Clelland, Atkinson, Clark & Lowell.
(1953). The Achievment Motive. NewYork: Halsted Press.
Mc. Clelland, David C. (1961). The
Achieving Society. New York: D. Van Nostrand Company, Inc.
Mc.Clelland, D. C (1985). Human
Motivation. Illinois : Scott,
Foresman & Company.
Muhibbin Syah. 2005. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
M. Ngalim Purwanto. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosadakarya.
Richard Bandler, John Grinder dan
Michael Grinder .2008. Neuro
Linguistic Programming (NLP) http://Binakreatif.blogspot.com/ 2008/06) Diunduh 27 November 2011.
Riduwan. 2009. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru – Karyawan dan Peneliti Pemula. Cetakan ke 6. Bandung: Alfabeta.
Riduwan & Akdon. 2009. Rumus dan Data dalam Analisis Statistika. Bandung: Alfabeta.
Robert A. Reiser &  Robert Mills Gagne. 1985. Selecting Media for Instruction. New Jersey: Educational Technology Publications, Inc., Englewood Cliffs.   
Robert Clarence Beck. 1990. Applying Psychology: Understanding People. New York: Prentice Hall.
Saifuddin Azwar. 2004. Metode
Penelitian. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar Offset.
Sardiman, A.M. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja                Grafindo Persada.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengeruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sri Rumini. 1995. Psikologi Pendidikan.
Yogyakarta. UPP Universitas Negeri Yogyakarta. Bandung: ALFABETA
Sugiyono. 2007. Statistika Untuk
Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Cetakan ke 9. Bandung: ALFABETA.
Sumardi Suryabrata. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
S. Nasution, M.A. 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Tapiardi, W. 1996. Motivasi Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Tim Penyusun  Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.
W. S. Winkel. 1983. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT Gramedia.
W. S. Winkel. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.